Sabtu, 16 Juli 2011

Bogor, menghujani pemberangkatannya...

Bogor,,semoga saja bukan tujuan terakhirnya…

Bulir-bulir air mata masih mengalir deras kala aku menulis catatan ini. Computer ini pun bahkan terlihat buram dimataku. Sesaknya masih terasa diujung tenggorokan seperti tercekat oleh suatu kesedihan yang tak terkira. Padahal ayah ku hanya hendak pergi kebogor selama 2 hari saja, tapi melihat kondisinya  yang seperti itu…aku jadi sedih…

Ntah kenapa, baru saja langkah kelima dia meninggalkan rumah, aku sudah merasakan dia akan pergi untuk jangka waktu yang lama. Astagfirullahaladzim, ya Allah..singkirkan pikiran-pikiran buruk ini dari benakku!!

Bagaimana tidak, kondisi ayah sudah sangat rapuh sekarang ini. Dia terkena penyakit struk ringan dan gangguan saraf yang putus. Walaupun tiap hari kerjaannya hanya membuat ibu dan adikku merasa kesal - karena perilakunya yang sudah menyerupai anak kecil- tapi aku mengerti, aku paham kenapa ayahku bertingkah layaknya anak nakal…dan aku marah, aku marah jika ada orang yang berani menyakiti hatinya, termasuk adikku!

Dalam kondisinya yang seperti itu, harusnya dia tidak usah bepergian jauh seperti itu..walaupun urusannya sangat penting, tapi itu bisa saja diwakilkan oleh paman dan bibiku. Emang dasarnya otak ayahku sedikit keras kepala dan tidak percayaan ma orang, dia lebih memilih mengurusnya sendiri ke Bogor.

Yang menyedihkannya, aku bisa sangat merasakan betapa sayangnya ayahku pada adikku itu!

Sejak pagi tadi, adek pergi meninggalkan rumah tanpa pamit pada ayah. Dia bilang padaku, dia akan latihan dan rekaman dengan teman satu band-nya. Saking paginya, aku bahkan tidak tau jam berapa dia berangkat. Liat betapa cuek-nya dia pada kondisi ayahnya. Tapi sebaliknya, sebelum ayah berangkat dia sibuk mencari-cari adek, kau tahu untuk apa? Hhhh….
Dia hanya ingin memberinya uang jajan,..

Tapi karena adek tidak ada, dia lantas menitipkannya padaku. Jumlah uang yang sama sekali tidak sedikit. Dia juga memberikan sejumlah uang padaku, dan pada ibuku…liat beapa sayangnya dia pada kami. Tapi kenapa semua orang seolah tidak mengerti..

Hmh..,sekarang aku lega karena telah menulisnya. sebelum ibu datang ke rumah, aku harus cepat-cepat menyelesaikan tulisan ini dan menghapus air mataku. Aku tidak boleh terlihat menangis didepan ibu. Bukankah selama ini, kala mereka menangis, Cuma aku yang berusaha senantiasa tegar untuk menegarkan mereka...

Aku hanya berharap, Semoga saja, Allah mengembalikan ayahku ke rumah dalam keadaan sehat wal'afiat..

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar