“ I can tolerate my own injuries, but I cant stand to see you suffering”
-Futaba, Beyond The Beyond
Seringkali orang terlalu memperdulikan perasaan orang lain, hingga dia lupa bagaimana perasaannya sendiri. Ntah itu dilakukannya karena perasaan ‘Cinta’ atau karena dia terbiasa dan tak bisa melontarkan sebuah penolakan. Tak terpungkiri memang, aku sendiri kadang tak begitu mempedulikan apa yang aku rasakan. Ketika melihat orang lain senang, bahkan gembira atas apa yang telah aku usahakan rasanya sudah cukup memuaskan.
Jika diingat-ingat apa cita-cita kita 5-7 tahun kebelakang, rasanya lucu sekali. Berguna bagi nusa dan bangsa dan membanggakan orang tua. Intinya, kita ingin diakui atas apa yang bisa kita lakukan kan? Lantas kenapa sekarang kita merasa terpaksa, jika memang ada orang yang membutuhkan kerja keras kita, bukankah itu artinya kita berguna bagi mereka? Mausia jaman sekarang memang bersifat fungsional. Kalau ada untungnya, baru dengan senang hati mau melakukan apapun. Kata -Menolong dengan sepenuh hati – rupanya akan mengikuti jejak dinosaurus ya? #punah :D
Kepedulian seperti diatas tidak akan berlebihan jika berlandaskan ‘Cinta’. Tapi sayangnya, cinta hanya terfokus pada orang-orang tertentu saja. kata-kata itu mungkin terlontar karena Futaba mulai merasa dirinya jatuh cinta pada Kiara sang Amaranthine. Beda ceritanya kalau sudah menyangkut soal cinta, apapun bisa kita lakukan! Kalau perlu gunung ku daki, lautan ku sebrangi. :D
Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak terbiasa dengan kalimat penolakan?
Dulu aku juga sama, meng-iya-kan sesuatu yang sebenarnya tak ingin aku lakukan, menyetujui hal yang sebenarnya ingin aku bantah. Aku seperti boneka tali yang digerakan dibawah kehendak orang lain. Aku ingin, tapi tak bisa… I’m lost, in the deep of the other side of mine.
Untuk itu, sebelum terlambat lakukan apa yang memang ingin kalian lakukan. Tak peduli seberapa kuat pengaruh luar, dan seberapa kau mengerti perasaan orang lain. Bukankah yang lebih merasakan itu diri kita sendiri? Tolonglah orang ketika kita sudah bisa menolong diri kita sendiri. Jika tidak, maka tidak akan ada yang bisa kita tolong.
Ketika semuanya sudah membaik, maka aku juga....aku juga ”tak bisa hanya diam melihat kau menderita.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar